Sabtu, 14 Juli 2012

Professor Bodoh yang Sombong





Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, ‘Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?’.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, ‘Betul, Dia yang menciptakan semuanya’.
‘Tuhan menciptakan semuanya?’
Tanya professor sekali lagi.

‘Ya, Pak, semuanya’ kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, ‘Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.’

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ‘Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?’
‘Tentu saja,’ jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, ‘Profesor, apakah dingin itu ada?’
‘Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?’ Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, ‘Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, ‘Profesor, apakah gelap itu ada?’
Profesor itu menjawab, ‘Tentu saja itu ada.’

Mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi anda salah Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.

Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.’

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, ‘Profesor, apakah kejahatan itu ada?’

Dengan bimbang professor itu menjawab, ‘Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.’

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, ‘kejahatan’ adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.

Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.’
Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Kamis, 12 Juli 2012

Tak Sempurna - Bondan & Fade2Black

Reff : Kukagumi kelemahanmu
Kucintai semua kekurangan
Itu bagiku indah, kau yang tak sempurna

Saat senja datang, gantikan siang
Mereka bilang...kau malam tanpa bulan
Beda, tak sama, kau yang tak sempurna
Bagiku kau sgalanya, murni ESTETIKA

Apa yang kautanam itu yang kau petik
Apa yang kau jalani, slalu beri yang terbaik
Impian tentang kau...yang tak terbatas
Jauh dari sempurna, tapi membekas 

Silahkan jadi hakim tuk smua perkara
Keterbatasan ini tulus jalankan cinta
Terhina dalam hati, tersudut karena beda
Kau sosok tak sempurna tapi bermakna

Back to Reff

Serupa bunga tanpa mahkota
Sperti air mineral tanpa o2
Ku tla'ah jauh kembali susunan alam
Menggali artikaf-mu lebih mendalam
Kerana satu untuk alasan, walau itu buruk
Ku cinta semua walaupun kau tak berbentuk

Aku sperti plato dalam pemahaman
Dunia indrawi bukan bentuk Keindahan

Mungkin kau mengertiii...mungkin kau tidaj
Masa lalumu sperti gading yang bisa retak
Mungkin kau sadariii...mungkin kau tidak
Tapi kuyakin kau tetap yang sempurna

Meski lemah, kau tetap hal yang terindah
Kau yang terindah
Meski rapuh, kau tetap hal yang terindah
Kau yang tak sempurna

Apa Bagian Tubuh yang Paling Penting ?

Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, ‘Telinga, Bu.” Tapi, ternyata itu bukan jawabannya. “Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti”

Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum Beliau bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. “Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang,jadi pastilah mata kita.”

Beliau memandangku dan berkata, “Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta.”

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban Beliau selalu, “Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku.”

Akhirnya beberapa tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku (alm) menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?”
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, “Pertanyaan ini penting. ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar ‘hidup’. Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting!’

Ibu memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah Bahumu…”
Aku bertanya, “Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?”

Ibu membalas, “Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Terkadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dari teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya.”

Tangisan Hati

Nada keharuan terdengar menyayat hati.
Ketika rasa dan perasaan perlahan pergi terkubur dalam ruang-ruang hati yang hampir retak.
Kesunyian dan kepiluan terpancar dari paras lembut yang membisu dan membatu.
Ribuan tanya seolah sulit terjawab dan menjadikannya sebuah misteri tentang arti sebuah Cinta.

Tatapannya kini kosong, tawanya perlahan memudar, hingga hidup tak dapat lagi melihatnya menari dan bernyanyi. langit tak lagi menyambut dengan nuansa birunya, hujan pun tak berhenti turun seakan mendukungnya untuk terus bersedih.

Lalu apakah dunia pun harus turut menangis jika butiran air mata masih mengalir membasahi pipi ? Dan haruskah mentari berhenti bersinar bila para insan sedang dilanda perpisahan ? Jika demikian siapakah yang harus disalahkan ? Waktu kah ? Terasa tidak bijak rasanya menyalahkan waktu. Walaupun kenyataannya waktuk lah yang membawa kita pada sebuah perpisahan..

Senin, 09 Juli 2012

Berdiri di Atas Jarak

Racikan Kata


Foto: guardian

Kata kamu, jarak tak ada artinya bagi cinta. Iya, sesaat setelah aku merasakan rindu. Jarak tak ada apa-apanya dibanding rindu yang terbangun di antaranya.

Rindu itu dimulai sedetik sejak lambaian tanganku ke arah pesawat itu.
Rindu itu dimulai sekejap dari saat pesan “hati-hati” yang aku kirimkan.

Aku tidak pernah mengerti dengan rindu. Sebuah paradoks yang kompleks. Terlalu rumit untuk cinta yang sederhana ini. Jarak membuatku rindu padamu. Namun bertemu denganmu justru membuatku semakin rindu.

Jarak selalu memperparah malam-malamku. Prasangka itu sulit, sayang. Menahannya semalaman suntuk hanya meyakinkan diri tidaklah mudah. Percaya, tapi semuanya tidak semudah itu, karena bukan akulah yang sesungguhnya kamu tunggu.

Aku tak sanggup jika harus menahan jarak sekaligus menahan perasaan. Apalagi dengan jarak yang terbentang antara kita saat ini. Jarak yang sepertinya tak sanggup aku tempuh dengan berjuta kayuh sekalipun.

Jarak antara prasangka, menebak-nebak jika kamu memikirkan aku seperti aku memikirkan kamu. Tanpa ada dia.

Jarak antara tiga hati. Aku padamu. Kamu padanya.
Aku sedang menunggu lelah meremukkan tapal kaki ini hingga tak lagi berdiri di antara jarak ini. Entah kapan.
Memang benar katamu, jarak tak ada artinya bagi cinta. Dan kamu mungkin tak pernah menghadirkan cinta.